Kulit Bersisik Ditinjau dari Perkawinan Sapinda Perspektif Hindu

  • I Made Subagia Stkip Agama Hindu Amlapura
Keywords: kulit bersisik, sapinda

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi tentang penderita kulit bersisik yang merupakan penyakit menurun, di desa terisolasi secara geografis dan sosial di kecamatan Kintamani, Kabuparen Bangli. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) cara penurunan penyakit kulit bersisik di desa terisolasi di Kintamani, (2) pandangan masyarakat tentang penyakit kulit bersisik, dan (3) upaya preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit kulit bersisik. Populasi penelitian berjumlah 22.308 orang. Subjek penelitian adalah penderita kulit bersisik dan objeknya adalah penyakit kulit bersisik. Metoda yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan kajian pustaka. Data yang terkumpul dianalisis secara deskririf. Dari observasi dan wawancara didapatkan penderita kulit bersisik di daerah terisolasi di Kintamani berjumlah 20 orang, terdiri dari enam orang perempuan dan 14 orang laki-laki dengan rentangan umur dua bulan sampai 40 tahun. Penderita tersebar di empat desa yaitu di desa Abang Batudinding, Sukawana, Suter, Songan A, dan Songan B. Semua penderita dihasilkan dari pasangan keluarga yang melakukan perkawinan sapinda, sehingga menguatkan bahwa kulit bersisik merupakan penyakit kulit yang bersifat menurun (genetik). Keadaan fisik penserita kulit bersisik sangat memprihatinkan. Masyarakat sekitar meandang bahwa kulit bersisik merupakan penyakit kulit biasa, tidak menular,dan tidak bersifat menurun. Upaya preventif yang dapat dilakukan antara lain: (1) menghindari perkawinan antar keluarga (sapinda), (2) membuat “ awig-awig” yang berisikan himbauan bahwa perkawinan keluarga (sapinda) bersifat “panas”.

References

Adiguna, Swastika. 2006.” Aspek Klinis Penyakit Kulit Bersisik”. Makalah dalam Seminar Kulit Bersisik. Denpasar: SMF ILmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD Rukmas Sakit Sanglah. Denpasar 23 Desember 2006.

Benet, J, Hun. 1997. ”Autosomal Resesive Congenital Ichthyosis : Private and Recurrent mutation in an isolated population”. http: // www. Medscape. Com. Di akses tanggal 10 Desember 2006.

Budiastra, et.all.1985. Prasasti Pura Bale Agung Kintamani Bangli. Denpasar: Rektorat Permuseuman Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Chem, Biol J. 1998. ”Living in a warm climate often improves ichthyosis. Transglutaminase 1 mutation in lamellar ichthyosis loss op activity due to failure of activation by photolytic processing”. http: // www. Medscape. Com. Di akses tanggal 10 Desember 2006.

Danies, Difa. 2004. Kamus Istilah Kedokteran. Jakarta: Gita Media Press.

Djuanda, Adhi. 1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke dua. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Enger, Eldon D dan Ross, Frederich C.2003. Concept in Biology. New York: Mc. Graw Hill.

Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedoktewran.

Graham, Robin dan Tony, Brown. 2002. Dermatology. Edisi ke delapan. Surabaya: Erlangga Medical Series.

Johnson, R.A et.al. 2005. Color and Synopsis of Clinical Dermatology. New York : Me. Graw Hill.

Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu. 2005. Metodelogi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.

Olculescz, L. F. dan Schwatz, R.H. 2004. “Vulgaris Ichthyosis, Heredity and Aquired”. http:// www. Emedicine.com. Di akses tanggal 10 Desember 2006.

Richard, et. Al. 2003. “ ichthyosis and Disorder of Cornification” dalam Schachner L.A. & Hansen, R. Pediatric Dermatology. 3td Edition. London: Mosby. Halaman 385-445.

Singarimbun dan Efendi. 1995. Metodelogi Penelitian Survai. Jakarta : IP3S.

Stansfield, William, D. 1991. Genetika. Edisi kedua. Surabaya: Erlangga.

Suelbery, Peter. 2006. Human Genetic Molecular. Second edition. New York: Pearson Education

Sulistiyo, Bambang dan Eviani, Komang. 2006. ” Gatal Sepanjang Hayat”. http : //www. Medscape. Com. Diakses tanggal 10 desember 2006

Suryo. 1999. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Priot, Eko et.all. 2006. Data Monograpi Kecamatan Kintamani. Bangli: Seksi Pemerintahan Kantor Camat Kintamani Kabupaten Kintamani.

Puja, Gede. 1983. Menawa Dharmasastra. Surabaya : Paramita

Whardana, 2006. ”Konseling Genetik”. Makalah dalam Seminar Kulit Bersisik. Denpasar: SMF ILmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD Rumas Sakit Sanglah. Denpasar 23 Desember 2006.

Winata, 2006. ”Aspek Genetik Penyakit Bersisik”.Makalah dalam Seminar Kulit Bersisik. Denpasar: SMF ILmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD Rumas Sakit Sanglah. Denpasar 23 Desember 2003.

Wiraguna, 2006.”Penatalaksanaan Penyakit Kulit Bersisik”. Makalah dalam Seminar Kulit Bersisik. Denpasar: SMF ILmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD Rumas Sakit Sanglah. Denpasar 23 Desember 2006.

Yatim, Wildam. 1994. Kamus Biologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Published
2011-01-01
How to Cite
Subagia, I. M. (2011). Kulit Bersisik Ditinjau dari Perkawinan Sapinda Perspektif Hindu. LAMPUHYANG, 2(1), 41-54. https://doi.org/10.47730/jurnallampuhyang.v2i1.111
Section
Articles