Eksistensi Pura Manik Kembar terhadap Kelahiran Anak Kembar di Bali

  • I Ketut Seken Stkip Agama Hindu Amlapura
Keywords: Pura Manik Kembar, anak kembar

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan keberadaan Pura Manik Kembar terhadap kelahiran anak kembar di Bali. Prosodur pengumpulan dan pencatatan data penelitian dilakukan sebagai berikut: (1) observasi non partisipasi, (2) telaah pustaka lokal, (3) mengedarkan koesioner, dan (4) wawancara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa  (1) sejarah Pura Manik Kembar tidak bisa lepas dengan hasil pesamuan sekta-sekta di Bali di bawah koordinator Empu Kuturan, (2) keberadaan Pura Pura Manik Kembar diyakini sebagai tempat memohon keselamatan dan penyucian bagi anak kembar di Bali, dan (3) berdasarkan perubahan nama yang terjadi beserta para pemedekyanya maka dapat diketahui bahwa terjadi/terdapat perubahan status pura dari Pura Kayangan Tiga (Dalem Bulakan) menjadi Pura Kayangan Desa Datah (Pura Batu Belah) dan selanjutnga menjadi Pura Kayangan Jagat (Pura Manik Kembar). Latar belakang Pura Manik Kembar disebut sebagai pura Kahyangan Jagat karena pura ini   penyungsungnya adalah seluruh umat Hindu dari semua klen (catur wangsa) yang ada di Bali atau di Indonesia.

References

Agung, Anak Agung Gede Agung, 1987. Pokok-Pokok Materi Pembinaan Desa Adat di Bali, Denpasar : Majelis Pebinaan Lembaga Adat Daerah Tingkat I Bali

Anandakusuma, Sri Resi, 1986. Kamus Bahasa Bali, Denpasar : CV. Kayu Mas Agung.

Artadi, I Ketut, 1987. Hukum Adat Bali, Upada Sastra : Denpasar.

Bagus, I Gusti Ngurah, 1983. Kebudayaan Bali, Dalan Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta : Djambatan, hal 279-299.

Cudamani, 1998. Bagaimana Umat Hindu Menghayati Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), Surabaya : Paramita.

Dep. P dan K, 1988.Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

Dherana,Tjokorde Raka, 1974. Pembinaan Awig-Awig dalam Tertib Masyarakat Seri Publikasi Hukum Adat, Denpasar : Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Diatmika, Ida Bagus Yasa, 2006. Makna dan Fungsi Palinggih Ring Pumahan, Denpasar : PT. Empat Warna Komunikasi.

Dinas Pengajaran Tingkat I Bali, 1993. Kamus Bahasa Bali- Indonesia, Denpasar..

Goris, R., 1974. Sekta-Sekta Di Bali, Jakarta : Bhratara.

Geriya, I Wayan. Upacara Tradisional Daerah Bali, Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta.

Jaman, I Gede, 1998. Membina Keluarga Sejahtra. Surabaya : Paramita

Jansen, .D. dan L. Kt. Suryani, 1992. Orang Bali Penelitian Ulang Tentang Karakter, Bandung ITB.

Kaler, I Gusti Ketut, 1994. Butir-butir Tercecer Tentang Adat Bali, Denpasar : CV. Kayumas Agung.

Koentjaraningrat, 1983. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta : PT Gramedia

Kertha, Ida Pandita Mpu Nabe Parama Manik Dwija, 1999. Puja Mantra Tri Yajna Ageman Pamangku/Pinandita. Buleleng : Gria Taman Bhadrika Asrama

Mantra, Ida Bagus, 1993. Tata Susila Hindu Dharma, Jakarta : Hanuman Cakti. Mantra, Ida Bagus, 1993. Bali : Masalah Sosial Budaya dan Modernisasi, Denpasar:Upada Sastra.

Panetja, G., 1986. Aneka Catatan Tentang Hukum adat Bali, Denpasar : CV. Kayu Mas.

Pudja, I Gede, 2004. Bhagawadgita. Surabaya : Paramita.

Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1995. Himpunan Keputusan Seminar Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu, Denpasar.

Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1987. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali, Denpasar.

Pudja, Gede, 1992. Theologi Hindu ( Brahma Widya), Jakarta : Yayasan Dharma Sarathi.
Published
2012-01-01
How to Cite
Seken, I. K. (2012). Eksistensi Pura Manik Kembar terhadap Kelahiran Anak Kembar di Bali. LAMPUHYANG, 3(1), 48-63. https://doi.org/10.47730/jurnallampuhyang.v3i1.124
Section
Articles