Budaya Magibung Kearifan Lokal Masyarakat Karangasem dalam Menanamkan Rasa Kekeluargaan dan Persaudaraan

  • I Wayan Gama Stkip Agama Hindu Amlapura
Keywords: Megibung, Kearipan lokal, persaudaraan, kekeluargaan

Abstract

Bali terkenal dengan adat istiadatnya. Setiap kabupaten memiliki budaya dan tardisi yang unik. Begitu pula Kabupaten Karangasem memiliki budaya yang unik yaitu megibung. Megibung pada dasarnya merukan makan secara bersama-sama pada satu wadah yang beranggotakan maksimal delapan orang dan minimal dua orang. Megibung dilaksanakan ketika masyarakat melaksanakan yadnya. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan megibung tentu akan melihat cara amakan ini terasa aneh dan terkesan berebutan. Akan tetapi pada bila dicermati lebih jauh kesen kesen berebutan itu tidak pernah terjadi pada budaya makan megibung. Megibung sangat sarat dengan nilai filosopi. Anggota  megibung berjumlah delapan orang yang duduk melingkar sesuai dengan arah dewata nawa sanga. Posisi ini melambangkan keseimbangan. Megibung dapat menciptakan keseimbangan dalam hidup. Dengan budaya megibung menanamkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Tidak jarang peserta mengibung baru kenel ketika itu kareana sama – sama menghadiri undangan. Megibung sarat dengan sejumlah nilai seperti nilai disiplin, pendidikan sosial, toleransi. Semua anggota duduk bersama tanpa membedakan warna dan status sosial. Sehungga megibung merupakan media menanamkan konsep menyama braya. Seiring dengan perubahan zaman budaya megibung juga mengalami perubahan misalnya dari olahan yang disajikan. Seiring zaman ada kesan megibung ingin ditinggalakan karena sejumlah faktor antara lain: kurang efisien, bertele-tele, kurang ekonomis, dan terkesan makanan tidak higienis. Berdasarkan kenyataan ini maka penulis dapat menyarankan hendaknya budaya megibung pada masyarakat Karangasem tetap dilestarikan dan pelaksanaannya disesuikan dengan kondisi zaman. Disamping itu pengolahan dalam penyiapan gibungan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehtan makanan yang akan disajikan dalam acara megibung.

References

Atmaja, Bawa Nengah. 2010. Genologi Keruntuhan Majapahit Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali. Ipustaka Pelajar: Yogyakarta.

Kadjeng, I Nyoman, 1970-1971. Sarasamuscaya, Proyek Pembinaan Kitab Suci Hindu dan Budha Direktorat Jendral Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama RI.

Pudja, G, 1979. Sarasamuscaya, Penerbit Mayasari, Jakarta.

Pudja, I Gede. Reg Weda Mandala X, Proyek Pengadaan Kita Suci Hindu Departemen Agama RI

Pudja, G. Manu Smrti, Proyek Pengadaan Kitab Suci Hindu, Departemen Agama RI.

Lontar Dwijendra Tattwa. Koleksi Perpustakaan Faksas UNUD Denpasar Nomor Lontar 514, Nomor Keropak 273.
Published
2013-01-01
How to Cite
Gama, I. W. (2013). Budaya Magibung Kearifan Lokal Masyarakat Karangasem dalam Menanamkan Rasa Kekeluargaan dan Persaudaraan. LAMPUHYANG, 4(1), 31-43. https://doi.org/10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.136
Section
Articles

Most read articles by the same author(s)