Keberadaan Awig-Awig sebagai Landasan Hukum Adat Masyarakat Hindu di Karangasem

  • Wayan Yanik Yasmini Stkip Agama Hindu Amlapura
Keywords: Awig-awig, hukum adat, masyarakat Hindu

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberadaan awig-awig dan  mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam memantapkan keberadaan awig-awig desa adat yang digunakan sebagai landasan hukum Hindu di Bali. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode studi domumentasi, wawancara, dan observasi. Analisisnya secara deskriptif kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan Awig-awig di Desa Prakaman masih eksis digunakan sebagai landasan hukum ada, tetapi perlu direvitalisasi. Faktor penyebab awig-awig desa adat perlu direvitalisasi karena awig-awig merupakan pedoman yang bertujuan memelihara ketertiban dan ketenteraman dalam kehidupan, mengatur keseimbangan, keamanan dan ketertiban krama dewa yang nantinya dapat terwujud kesukertaan desa, sumber hukum pada tingkat desa adat, sebagai tata tertib, sebagai pedoman dalam kegiatan sesuai dengan budaya, adat istiadat, dan keagamaan serta awig-awig berisi falsafah Tri Hita Karana dan falsafah Hindu berdasarkan pada “Moksatham Jagat Hita Ya Iti Dharma,” Catur Purusa Artha (Dharma, Kama, Artha dan Moksa), Desa, Kala, Patra, Tat Twam Asi, dan Tri Upasaksi. Upaya yang dilakukan untuk memantapkan keberadaan awig-awig desa adat sebagai landasan hukum Hindu adalah memantapkan penyusunan awig-awig di tingkat desa adat, selanjutnya menyosialisasikan penyusunan awig-awig, dan mencetak awig-awig untuk disosialisasikan agar dipedomani oleh semua pihak terkait.

References

Agung, AA Gede. 2002. Metode Penelitian. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.

Al Barry, M. Dahlan. 1994. Kamus Modern Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Arkola.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arnita, I Gusti Ayu Rai. 2002. Pedoman Penyuratan Awig-Awig Desa Adat/Adat (Fungsi dan Manfaat). Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.

Aryawan, Budi Kresna. 2006. Penerapan Sanksi terhadap Pelanggaran Awig-Awig. Denpasar, Bali.

Asmara, Brata. 2002. Tri Hita Karana dalam Pembangunan dan Tatanan Kehidupan Masyarakat Bali. Depdikbud.

Dharmayuda, Suasthawa I Made. 1999. Memberdayakan Desa Adat Dipandan Dari Sudut Filsafat dan Agama. Lembaga Pengkajian Budaya Bali. Denpasar.

Kari. 2009. Peranan Awig-awig dalam Menanggulangi Konflik Sosial. Artikel (tidak diterbitkan). IHDN Denpasar

Koentjaraningrat. 1989. Metode Penelitian Administrasi. Bandung Alpa beta.

Kusumadi, Pujosewoyo. 1983. Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia. Universitas Jakarta.

Nasution.2000. Metode Penelitian. Bandung: AlpaBeta.

Pitana, I Gede. 2000. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Offset

Rai, I Wayan. 2007. Perubahan Sosial, Kebudayaan Nungkalik dan Transformasi Konflik. Singaraja. Undiksha.

Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sugiono. 2002. Metodologi Penelitian. Bandung: Ganesa Excat.

Surpha, I Wayan. 2002. Eksistensi Desa Adat di Bali. Denpasar: PT Upada Sastra.

Tim Penyusun. 1995. Awig-awig Desa Adat Selumbung. Manggis, Karangasem

Triguna, IBG Yudha. 2011. Mengapa Bali Unik?. Jakarta: Pustaka Jurnal Keluarga.

Wiana, I Ketut. 2000. Pelestarian Lingkungan Hidup Menurut Konsep Hindu, Majalah Widya Satya Dhrama.

Widnyana, I Made. 1993. Kapita Selekta Hukum Pidana Adat, Cetakan Pertama. Bandung: PT. Eresco.

Winia, I Wayan. 2012. Implementasi Awig-Awig di Desa Adat Ulakan dalam Menanggulangi Konflik Krama Desa. Skripsi (tidak diterbitkan). Program Studi Pendidikan Agama Hindu STKIP Agama Hindu Amlapura.
Published
2019-01-01
How to Cite
Yasmini, W. Y. (2019). Keberadaan Awig-Awig sebagai Landasan Hukum Adat Masyarakat Hindu di Karangasem. LAMPUHYANG, 10(1), 61-75. https://doi.org/10.47730/jurnallampuhyang.v10i1.176
Section
Articles